
Di balik tegaknya Pondok Pesantren Baitul Atieq Cepoko, terdapat dedikasi tanpa batas dari sosok ulama karismatik yang menghabiskan hidupnya untuk ilmu, umat, dan agama. Beliau adalah KH. Ahmad Thohir Musthofa—sosok ulama bersahaja, istiqamah, dan berjiwa pendidik sejati.
Masa Kecil & Benih Kecintaan pada Ilmu
Lahir pada 12 Juni 1960 M di Desa Cepoko, Berbek, Nganjuk, Jawa Timur, beliau adalah putra kedua dari pasangan Bapak M. Musthofa & Ibu Mufiatun. Tumbuh dalam buaian keluarga yang religius, nilai-nilai kedisiplinan dan kecintaan pada ilmu agama telah mengakar kuat dalam denyut nadinya sejak belia.
Mengembara Mencari Pengetahuan (1970 – 1992)
Dahaga akan ilmu membawa beliau melangkah jauh di awal tahun 1970-an menuju Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri—salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Nusantara.
Selama lebih dari dua dekade, beliau menempa diri, menyelami lautan ilmu keislaman klasik (kitab kuning), dan menyerap hikmah langsung dari para ulama besar, termasuk KH. Idris Marzuqi. Di Lirboyo, beliau tidak hanya mengisi akal dengan ilmu, tetapi juga memoles hati dengan karakter, kedisiplinan, dan laku tirakat khas santri sejati.
Membangun Mahakarya: Berdirinya Baitul Atieq
Tahun 1992, dengan dada yang penuh ilmu dan niat yang tulus, beliau kembali ke tanah kelahiran. Tekadnya hanya satu: menyalakan pelita pendidikan Islam di desanya. Maka, berdirilah Pondok Pesantren Baitul Atieq Cepoko.
Tempat ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan kawah candradimuka bagi para santri dan pusat pembinaan spiritual bagi masyarakat sekitar. Dengan keteladanan, kesabaran, dan keikhlasan, KH. Ahmad Thohir Musthofa membimbing umat menuju pemahaman Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Pulang Menuju Sang Khalik
Setelah puluhan tahun mewakafkan diri untuk pendidikan dan dakwah, Allah memanggil hamba terkasih-Nya. Beliau wafat pada Jum’at Pahing, 10 Shafar 1440 H (19 Oktober 2018 M).
Meski raganya kini beristirahat dengan tenang di area pemakaman Pondok Pesantren Baitul Atieq, nama dan ajarannya abadi. Makam beliau senantiasa menjadi saksi bisu yang diziarahi oleh ribuan santri dan masyarakat pencari keberkahan.
Tongkat Estafet yang Terus Melangkah
Perjuangan tidak berhenti di pusara. Estafet kepengasuhan kini dilanjutkan dengan penuh keteguhan oleh sang istri tercinta, Ibu Nyai Hj. Lulukil Maknun.
Di bawah asuhan beliau, Pondok Pesantren Baitul Atieq Cepoko terus mengepakkan sayapnya. Terus berinovasi, mendidik, dan mencetak generasi Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berakhlak mulia, berilmu tinggi, dan siap memajukan peradaban.

